Setelah Bawang, Harga Cabai di Purworejo Gantian Merayap

Pasar Baledono – Suasana Pasar induk Baledono Purworejo tetap sama. Hanya harga komoditas yang dijual bergerak naik dan turun. Harga bawang putih yang sempat menyentuh Rp 50 ribu per kilogram, kini turun drastis menjadi Rp 29 ribu per kilogram. Demikian pula bawang merah, semula Rp 50 ribu per kilogram. Kini turun menjadi Rp 46 ribu per kilogram.”Sebagai pedagang kami yang gantian rugi sekarang, kemarin saya beli di distributor di harga Rp 50 ribu per kilogram. Kini, hanya laku dijual Rp 29 ribu per kilogram. Harga anjlok seperti air kulah yang diporot,” ungkap Lestari, pedagang sembako di lantai dasar pasar induk terbesar di Purworejo ini, baru-baru ini (22/3).

Lestari tidak mengetahui secara persis apa penyebabnya. Dia menduga kemungkinan harga bawang turun lantaran pasokan normal. Jika ada kemungkinan lain, bisa jadi barang impor masuk ke Indonesia. Belum lagi ulah sepekulan yang memanfaatkan keadaan.”Jika harga-harga sembako dan bumbu dapur stabil, tentunya kondisi pasar lebih nyaman. Fluktuasi harga komoditas musiman memang sudah seperti tradisi,” imbuhnya. Pedagang lain, Siti Khotidjah, 62, menambahkan yang justru mengalami kenaikan harga adalah komoditas cabai. Cabai Rawit misalnya, terus mengalami tren kenaikan harga.”Harga terakhir Rp 35 ribu per kilogram, sekarang naik lagi menjadi Rp 38 ribu per kilogram,” paparnya.

Dilanjutkan Siti, selama puluhan tahun berdagang di Pasar Baledono, fluktuasi harga cabai sekarang memang yang paling tinggi. Jika naik kelewat mahal, saat turun seperti sampah yang tidak memiliki nilai jual. “Distributor bilang, harga cabai naik lantaran tidak banyak petani yang menanam cabai saat ini. Produksi menurun karena cuaca dan serangan hama membuat barang menjadi langka. Hukum pasar berlaku, barang tidak ada, harga pasti naik,” katanya. Ida Royani, 35, warga Purworejo menuturkan, fluktuasi harga kebutuhan pokok khususnya bumbu dapur menjadi masalah yang cukup pelik untuk kebutuhan sehari-hari. “Saat harga bawang atau cabai naik seperti saya hanya bisa mengakali beli bumbu sasetan. Kini, kalau harga sudah di luar kewajaran, sementara saya harus tetap membeli bawang atau cabai untuk kebutuhan memasak sehari-hari,” katanya.

Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian, dan Kehutanan (Distanhut) Purworejo Ir Eko Anang SW menjelaskan, komoditas holtikultura musiman seperti bawang dan cabai dipengaruhi faktor cuaca. Dua komoditas itu memang tidak lazim dibudidayakan saat musim penghujan seperti saat ini. “Tidak banyak petani yang menanam cabai saat musim penghujan seperti sekarang. Semua nyaris menanam padi. Saat tidak ada petani yang menanam cabai produksi pasti menurun. Itu menjadi penyebab harga melonjak. Belum lagi ditambah ulah sepekulan di balik itu,” tuturnya. Selain itu, sambung Eko Anang, banyak petani yang belum cermat membidik peluang. Kebanyakan mereka masih latah dan melakukan pola tanam mengikuti perkembangan harga di pasar.”Saat hargai cabai mahal, petani ramai-ramai tanam cabai. Saat panen raya tiba harga jatuh. Seandainya pola itu dibalik, menanam cabai saat musim penghujan bisa dilakukan tentunya dengan teknis yang tepat,” katanya.

Disinggung soal teknis, kendala budidaya cabai di musim penghujan memang tinggi. Cuaca hujan yang lembab sering membuat petani gagal. Kasus paling banyak untuk tanaman cabai adalah hama patek (antraknose,Red). “Patek ini berupa jamur yang menyerang buah cabai. Cabai yang terserang patek diawali dengan titik melingkar di kulit buah cabai. Lama-lama lingkaran membesar buah mengering dan jatuh dari pohon. Cabai seperti itu tentu tidak laku di jual,” katanya. Selain hama patek, musim penghujan seperti ini lalat buah cukup ganas menyerang tanaman. Mereka menyasar buah. Biasanya mencari media berkembang biak alias bertelur. “Lalat buah menaruh embiro di buah cabai. Kemudian cabai membusuk jatuh. Di dalam cabai busuk yang jatuh itu ada larva yang siap berubah menjadi kepompong dan tumbuh menjadi lalat buah,” imbuhnya.

Menurut Eko Anang, ada beberapa cara menanggulangi masalah tersebut. Antara lain menjaga sanitasi lahan. Petani diminta membersihkan lahan dari rumput di sekitar tanaman. Demikian pula buah yang terlanjur diserang organisme pengganggu tanaman (OPT) harus dibersihkan dari areal sawah. “Diambil dan dibuang jauh. Lebih efektif lagi kalau dibuatkan lubang lalu ditanam. Kalau tidak ya dibakar agar serangan tidak meluas,” katanya.Selain itu, Eko meminta petani membuat jarak tanaman dijaga ideal. Untuk cabai merah kriting misalnya, jarak tanam ideal 60 x 80 sentimeter. Sedangkan cabai rawit lebih lebar lagi 1 x 1 meter. Karena cabai rawit masa tanam lebih lama dan bisa tumbuh tinggi dan besar. (*/hes)

 

Rental Mobil Purworejo

Kami siap jemput & antar ke tujuan Anda. Hubungi kami sekarang juga! Telp 08111800809