Panen Raya, Harga Gabah Di Purworejo Terjun Bebas

ilustrasi

PURWOREJO - Petani di Purworejo tengah panen raya padi secara serentak. Ini justru membuat petani terancam tidak bisa menikmati hasil panen, lantaran harga gabah kering panen (HGP) atau harga kering giling (HKG) terjun bebas di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Ponirah, 65, warga Sendangsari Kecamatan Purwodadi Purworejo mengatakan, hasil panen tahun ini relatif baik dibanding tahun sebelumnya. Serangan hama tidak banyak. Sayangnya, harga jual gabah anjlok. Harga gabah kering panen rata-rata di bawah Rp 3 ribu per kilogram.”Hasil panen kali ini rencananya akan dijual. Tapi karena hanya ditawar Rp 2.500 per kilogram, terpaksa saya tunda,” kata Ponirah kemarin (2/4).Petani lain, Suyatno, 63, Desa Tegalrejo Kecamatan Banyuurip Purworejo mengatakan, hasil panenan tahun ini lebih baik. Setiap satu hektare, mampu menghasilkan 7-8 ton gabah kering. “Tahun ini, panen memang lebih baik. Yang tidak baik, cuma harganya,” keluhnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanuh) Purworejo Ir Dri Sumarno mengakui, musim tanam pertama tahun ini hasilnya cukup baik. Serangan hama relatif kecil. Hanya, padi yang mengalami puso akibat banjir juga banyak. Tanaman padi yang menjadi korban banjir ada di Kecamatan Grabag dan Butuh bagian Selatan, ribuan hektar lahan sawah sempat terendam banjir. Sebagian lagi di Kecamatan Ngombol, Purwodadi, Kemiri, dan kecamatan lain.”Rata-rata, hasil panen tahun ini sekitar 8 ton per hektare. Hasil panen yang baik ini akan menambah surplus beras di Purworejo,” katanya. Sementara itu, Desa Kalimiru Kecamatan Bayan yang menjadi tempat demplot tanaman padi Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) untuk musim tanam 2012–2013 seluas satu hektare, hasilnya cukp memuaskan. Kisarannya, 7,99 ton hingga 8 ton per hektare. “Ini menunjukkan peningkatan dibanding pengelolaan padi yang tidak demplot hanya mencapai 5,44 ton per hektare,” papar Kades Kalimiru H Marno saat panen perdana di demplot Desa Kalimiru.

Marno melanjutkan, proses mendapat bantuan demplot membutuhkan waktu lama. Setelah proses lama, akhirnya terealisasi. Hasil panen yang meningkat bagus, diharapkan masyarakat petani bisa melanjutkan mengelola padi dengan proses yang benar. Tentu dengan memperhatikan pengelolaan. Mulai persemaian, penanaman, pemupukan, pengendalian hama, dan seterusnya. “Kalau sering berkoordinasi dengan PPL dan serius, insya Allah  mendapat hasil yang bagus pula,” imbuhnya. Ditambahkan, kelompok tani di Desa Kalimiru diimbau mau dan maju dengan mengikuti proses tanam yang sesuai demplot. Harapannya, akan meningkatkan hasil produksi padi yang nantinya untuk kesejahteraan petani itu sendiri. “Menjaga kekompakan antarkelompok tani agar terus ditingkatkan. Setelah musim panen, masing-masing kelompok tani bermusyawarah untuk penanaman berikutnya. Mereka harus sepakat untuk menanam jenis tanaman pada musim kemarau yang akan datang,” tandasnya.Ketua Kelompok Tani Muda Maju Makmur Endro Purwono menjelaskan, demplot ini jenis padinya varietas ciherang dengan sistem tanam legowo dengan jarak tanam  25 x 25 sentimeter. Penggunaan pupuk satu hektare membutuhkan pupuk organik 1.000 kilogram, urea 100 kilogram, dan ponska 100 kilogram. “Penggunaan pupuk lebih diutamakan pupuk organik dan mengurangi pupuk kimia. Memang belum memakai pupuk dasar, tetapi setelah sekarang memakai pupuk dasar organik, hasilnya cepat tumbuh,” katanya.PPL Kecamatan Bayan Sardjono SPkp menambahkan, dalam menggunakan bibit padi dianjurkan umur bibit muda kurang lebih 17 hari. Dengan sistem tanam legowo, bisa mendapatkan sinar matahari yang penuh dan menjaga kelembaban. Sehingga mengurangi resiko terkena hama.(tom/hes)

 

Rental Mobil Purworejo

Kami siap jemput & antar ke tujuan Anda. Hubungi kami sekarang juga! Telp 08111800809