Minggu Pagi di Victoria Park

KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA

HONGKONG di hari Sabtu dan Minggu sedikit banyak bercita rasa Nusantara. Semakin terasa jika mengunjungi Victoria Park. Ada yang menyebut taman di tengah kota itu sebagai Kampung Jawa. Suhu udara yang sejuk berkisar 18 derajat celsius tak menyurutkan langkah buruh migran Indonesia mengunjungi Victoria Park, Hongkong, Minggu (3/3/2013) lalu. Mereka mengenakan jaket tebal, syal, penutup kepala, sarung tangan, dan sepatu boot tinggi. Trendi gaya berpakaian mereka. Tak kalah dengan kaum warga Hongkong.

Hongkong memang memiliki keunikan sendiri tentang kisah buruh migran Indonesia. Sabtu atau Minggu adalah hari yang selalu dinantikan para perantau itu. Mereka mendapat libur kerja sehari, biasanya Sabtu atau Minggu. Di satu hari libur itulah, mereka dapat lepas mengekspresikan diri.

Victoria Park di Causeway Bay hingga kini masih menjadi ruang publik terfavorit bagi buruh migran Indonesia di kala libur. Tak sekadar menjadi tempat berkumpul dan bersantai, taman kota itu juga adalah panggung berekspresi.

Komunitas-komunitas buruh migran memanfaatkan taman yang dibuka tahun 1957 itu untuk berbagai kegiatan. Komunitas dancer berlatih gaya-gaya baru, komunitas fashion memamerkan mode pakaian yang sedang tren, ataupun mereka yang datang sekadar berkumpul dan ngobrol melahirkan suasana guyub ala pedesaan Indonesia. Di tengah modernitas Hongkong, keramahtamahan mereka tak memudar.

Kampung Jawa

Suasananya seolah terasa seperti di Tanah Air ketimbang di Hongkong. Mereka berbincang akrab berbahasa Indonesia ataupun Jawa dengan dialek khas daerah asal masing-masing. Banyak buruh migran di Hongkong berasal dari daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tak heran, Victoria Park mendapat julukan ”Kampung Jawa”.

Adistira (30), anggota komunitas Virgin Dancer, menuturkan, setiap Minggu anggota Virgin Dancer selalu berkumpul dan berlatih tari modern di Kampung Jawa itu. Taman dengan banyak bunga warna-warni dan pepohonan itu dirasakan sebagai tempat paling nyaman untuk berkumpul.

Komunitas ini bersifat kekeluargaan untuk mengisi waktu libur agar tidak terbuang sia-sia. Biar tetap happy dan enggak stres.
– Adistira

”Komunitas ini bersifat kekeluargaan untuk mengisi waktu libur agar tidak terbuang sia-sia. Biar tetaphappy dan enggak stres,” ujar pekerja asal Blitar, Jawa Timur, ini.

Menurut Meli (35), asal Lampung yang juga penggagas Virgin Dancer, komunitas ini dibentuk untuk memperkuat ikatan persaudaraan antarburuh migran, selain juga sebagai wadah menyalurkan hobi. Anggota bebas berkreasi tarian modern ataupun menyanyi. ”Daripada libur pergi ke diskotek atau ke mal, kan, buang-buang uang,” ujar Meli yang telah bekerja di Hongkong selama 10 tahun.

Di bawah pohon rindang di Victoria Park hari itu, komunitas lain, Communication Club, berkumpul dan berdiskusi. Beralaskan terpal plastik tipis, komunitas jurnalis warga yang beranggotakan 20-an orang ini berdiskusi soal penulisan berita.

”Biasanya kami menulis berita kegiatan-kegiatan pengajian. Kami masih belajar,” tutur Yulia Cahyaningrum, anggota Communication Club, asal Ngawi, Jawa Timur.

”Fashion show”

Lain lagi dengan Nathasha (25), asal Purworejo, Jawa Tengah, yang menggemari mode. Ia dan penggemar fashion biasanya berkumpul di Victoria Park untuk memamerkan mode yang sedang tren, dari kasual sampai gaun malam.

Tidak segan-segan mereka mengeluarkan uang ribuan dollar Hongkong untuk belanja pakaian dan riasan. ”Kan, masih single. Uangnya dipakai sendiri, tapi tetap bisa nabung,” ujar pekerja rumah tangga yang berpenghasilan 3.900 dollar Hongkong sebulan ini.

Hari Minggu lalu, suasana terasa lebih semarak. Di aula Hotung Secondary School di dekat Victoria Park digelar lomba modern dance dan peragaan busana gaun malam yang diikuti puluhan buruh migran Indonesia. Komunitas-komunitas tari dan mode saling unjuk gigi.

Natasha (25) dan temannya, Erizha (25), yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, tidak mau ketinggalan turut berlomba, berlenggak-lenggok bak peragawati. Natasha mengenakan gaun malam panjang warna hijau cerah yang telah dimodifikasi agar lebih terkesan wah. Erizha mengenakan gaun panjang warna ungu yang juga telah dipermak Natasha. ”Gaunnya beli,” ujar Natasha.

Prasasti

Sejumlah taman kota lain di Hongkong juga menjadi tempat berkumpul buruh migran. Kelompok pengajian Majelis Tsim Sha Tsui, misalnya, biasa menggelar pengajian rutin setiap hari Sabtu di Kowloon Park.

Setelah bertemu komunitas-komunitas buruh migran Indonesia, langkah kaki pun menuju salah satu tempat tujuan wisata yang sayang bila dilewatkan, yakni Avenue of Stars di tepian Victoria Harbour. Di sini ada patung aktor laga legendaris Bruce Lee.

Selain itu, ada juga tapak tangan Jackie Chan, Chow Yun Fat, dan Jet Li tercetak di ubin. Avenue of Stars menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk berfoto. Bila tidak malu-malu, bisa berfoto mendekatkan wajah kita di dekat prasasti bintang-bintang terkenal itu.

Ah, para buruh migran, warga Indonesia yang bekerja keras di negeri orang itu, rasanya perlu juga dibuatkan prasasti atas kegigihan mereka berjuang untuk keluarga, untuk bangsanya. Tak perlu malu-malu….

Sumber: Kompas cetak

 

Rental Mobil Purworejo

Kami siap jemput & antar ke tujuan Anda. Hubungi kami sekarang juga! Telp 08111800809