Mekanisasi Dikhawatirkan Buruh Tani Purworejo


PURWOREJO - Mekanisasi pertanian yang mulai diterapkan pada sektor panen di Kabupaten Purworejo mulai dikhawatirkan buruh tani. Mereka takut jika penghasilan sebagai pemanen padi berkurang perannya digantikan mesin.

Buruh tani di Desa Kiyangkongrejo Kecamatan Kutoarjo Juwari (48) mengemukakan, buruh sangat tergantung dari pekerjaan yang diberikan pemilik sawah. Dalam satu musim, Juwari akan menjadi buruh pemanen dan perontok padi selama 15 hari.

Juwari mampu membawa pulang kurang lebih 700 kilogram GKP yang akan dimasak dan disimpan sebagai tabungan. “Pasti dapat pekerjaan dan hasilnya bisa untuk menyekolahkan anak dan bayar utang,” kata Juwari kepada KRjogja.com, Kamis (07/03/2013).

Ia mengakui, peran mesin mempercepat proses panen. Pemanenan tenaga manusia untuk sawah seluas satu hektare perlu waktu kurang lebih dua hari dan dikerjakan sedikitnya 25 buruh. Buruh mendapat bagian sepertujuh hingga sepersembilan dari total gabah yang berhasil dipanen.

Buruh lain Tumirah (45) mengharap pemerintah bijak dalam menerapkan kebijakan mekanisasi. Bentuk kebijakan harapan buruh antara lain tidak asal memberikan bantuan mesin kepada kawasan yang menjadi sentra buruh tani.

“Mungkin dialokasikan di daerah yang memang kesulitan mendapatkan jasa buruh tani, itu sangat membantu. Kami sadar, penggunaan mesin sangat penting karena dapat meningkatkan hasil, namun perlu mempertimbangkan nasib buruh panen agar tidak hanya menjadi penonton ketika alat itu beroperasi,” tuturnya. (Jas)

 

Rental Mobil Purworejo

Kami siap jemput & antar ke tujuan Anda. Hubungi kami sekarang juga! Telp 08111800809