Kesulitan Solar Ancam Budidaya Udang Vanamei

Kincir air, kebutuhan vital dalam budidaya udang vanamei. Sulitnya solar menyebabkan petambak kebingungan. (Foto : jarot Sarwosambodo)

PURWOREJO (KRjogja.com) – Ratusan petambak di pesisir selatan Kabupaten Purworejo mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar bersubsidi. Budidaya udang vanamei yang bernilai investasi miliaran rupiah terancam gagal karena kebutuhan bahan bakar untuk menghidupkan kincir tidak tercukupi.

Petambak kesulitan mendapat pasokan sejak setengah bulan terakhir. “Kami memang kerjasama dengan karyawan SPBU, kalau ada pasokan datang pasti dikabari. Namun begitu sampai ke SPBU, kami tidak kebagian karena sudah habis,” ujar Santoso (31) petambak di Desa Gedangan Kecamatan Purwodadi, kepada KRjogja.com, Selasa (09/04/2013).

Menurutnya, kincir air sangat vital dalam budidaya udang vanamei. Udang tersebut membutuhkan pasokan oksigen dalam jumlah besar yang hanya bisa dicukupi dengan kincir. Setiap tambak, lanjutnya, memerlukan dua kincir air.

Untuk setiap tambak, kebutuhan solar kurang lebih sepuluh liter perhari. Petambak akan menyalakan kincir selama kurang lebih 4 – 5 jam permalam. Namun kebutuhan penggunaan kincir meningkat hingga 12 jam permalam ketika umur udang memasuki dua minggu. “Kalau terlambat satu jam tidak menyalakan kincir, dijamin mati. Padahal, investasi setiap petak mencapai Rp 25 juta dan jumlah tambak sedikitnya 200 di sejumlah desa pesisir selatan Purworejo,” ungkapnya.

Petambak lain Kasmo (53) menambahkan, sebelas tambak miliknya dan beberapa kerabat membutuhkan 110 liter solar permalam untuk menghidupkan 22 diesel kincir air. Namun saat antri di SPBU, ia hanya mendapatkan tidak lebih dari 50 liter solar. (Jas)

 

Rental Mobil Purworejo

Kami siap jemput & antar ke tujuan Anda. Hubungi kami sekarang juga! Telp 08111800809