Kerajinan Bambu Dijadikan Klaster Unggulan Purworejo

Mebel bambu (ilustrasi)

PURWOREJO – Kabupaten Purworejo terus mengembangkan potensi untuk menjadi klaster unggulan yang menopang program agrobisnis. Setelah tiga klaster meliputi komoditas jagung, kambing PE, dan gula kelapa ditetapkan lebih dahulu, kerajinan mebeler bambu di Kecamatan Bener menyusul menjadi klaster unggulan bersama pengembangan sektor pariwisata.

Pengembangan klaster baru itu terungkapkan dalam dalam rapat koordinasi (rakor) FEDEP (Forum for Economic Development Employment and Promotion), di aula Bappeda Kabupaten Purworejo.

Kasubid Pengembangan Dunia Usaha dan Penanaman Modal pada Bappeda Drs Muda Kahuni mengungkapkan, pembentukan klaster dirintis mulai 2009 lalu. Tiga kelompok usaha bersama dalam satu kawasan (klaster) unggulan, mulai dikembangkan yaitu jagung, kambing PE dan gula kelapa. “Klaster kambing PE dan gula kelapa, sudah mulai berkembang. Hanya jagung yang masih bertahan seperti semula,” ungkapnya.

Kambing PE melalui inovasi baru, mengembangkan susu PE menjadi susu bubuk instan, serta pembuatan pupuk organik. Sementara gula kelapa mengarah pada peningkatan produksi. Pihaknya belum mengarah pembuatan gula kelapa menjadi gula kristal, kendati tidak menutup kemungkinan nantinya ke arah itu.

“Sewaktu ikut pameran di mall Paragon Semarang beberapa bulan lalu, gula kelapa Purworejo dan susu PE cukup diminati konsumen. Barang yang kita bawa habis dibeli masyarakat. Namun saat mengikuti pameran di Solo, dengan membawa jagung pipil dan tongkol, ternyata tidak ada orang yang melirik,” katanya.

Tony Prasetyo, koordinator FEDEP berharap di Kabupaten Purworejo terjadi sinergi tiga bidang unggulan, yaitu antara pertanian-pariwisata-agri industri. Apabila terlaksana ketiga bidang tersebut bisa saling mendukung, bisa mengembangkan Purworejo menuju visi misinya.

Kasi Industri Dinas Perindagkop, M Firdaus menambahkan, saat ini ada permintaan gula kelapa organik. Penilaian organik sangat luas, mulai tanah tempat tanaman kelapa tumbuh apakah mengandung bahan kimia atau tidak. Hal ini dapat dikembangkan di daerah dataran tinggi, bukan persawahan.

Ditambahkan oleh Kabid Peternakan pada Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan, Ir Riyanto, bahwa pihaknya saat ini belum memiliki data yang pasti tentang berapa jumlah pemerah maupun produksinya. Mengenai kebutuhan alat, ia mengaku sebetulnya hal itu bukan hal yang mendasar.

( Nur Kholiq / CN34 / JBSM )

 

Rental Mobil Purworejo

Kami siap jemput & antar ke tujuan Anda. Hubungi kami sekarang juga! Telp 08111800809