Harga Tiga Kali Lipat, Solar Dex Di Purworejo Tak Laku

PURWOREJO – Sejumlah SPBU di Purworejo mulai membatasi pembelian solar bersubsidi. Hal itu membuat pelaku usaha penyewaan traktor, gilingan padi, sopir truk, dan kru angkutan yang menggunakan bahan bakar solar kelimpungan dan terancam gulung tikar.

“Kami biasa beli solar dengan jeriken. Kini, setiap pembelian dibatasi 20 liter per hari. Untuk membajak sawah itu tidak cukup,” ungkap Widiyanto, 40, warga Desa Triwarno Banyuurip Purworejo kemarin (4/4). Salah satu kru angkutan bus, Maryanto, 32, mengungkapkan hal senada. Ia kesulitan mendapatkan solar dalam dua pekan terakhir. Setiap membeli solar di SPBU selalu dibatasi.”Armada melayani trayek Purworejo-Magelang. Solar yang langka membuat kami terjepit. Sudah penumpang semakin sepi, ditambah solar dibatasi. Kami benar-benar dibuat semakin sulit hidup,” keluhnya. Sejumlah sopir truk dan pengusaha penggilingan padi merasakan hal sama. Saat solar sulit didapatkan, usaha mereka terancam gulung tikar. Bagi mereka solar merupakan bahana bakar untuk menopang keberlangsungan usaha. Kabid Perdangan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Purworejo Bambang Gatot Seno Aji menjelaskan, kelangkaan solar dipicu pengurangan kuota solar bersubsidi untuk Purworejo. “Kami mendapat konfirmasi dari Pertamina, pengurangan kuota solar bersubsidi itu terhitung Maret 2013,” jelasnya.

Dikatakan Gatot, penyesuaian alokasi dari pemerintah dituangkan dalam SK BPH Migas 02/PSO/BPH MIGAS/KOM/2013, di mana kuota solar bersubsidi 2013 untuk Purworejo sebesar 23.358 kiloliter (KL), turun 3,35 persen dari konsumsi 2012 sebesar 24.168 KL.” Memenuhi kebutuhan konsumen, pertamina menyediakan BBM nonsubsidi solar dex curah di SPBU 44.541.12 Sumber Alam Kutoarjo. Sementara di sejumlah SPBU lain disediakan dalam bentuk jerigen,” katanya. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Purworejo R. Abdullah berharap, Pertamina dan SPBU mengawasi aksi borong yang dilakukan oknum yang tidak bertanggungjawab.”Saya minta SPBU melakukan pengawasan terhadap konsumen untuk menghindari aksi borong. Dengan menekan aksi borong solar, kelangkaan bisa sedikit teratasi,” katanya. Sementara itu, jumlah permintaan solar dex tidak banyak, konsumen enggan membeli solar tanpa subsidi karena selisih harganya lebih mahal. Ini membuat konsumen berpikir dua kali. Penanggung jawaba SPBU 44.541.03 yang ada di Jalan Tentara Pelajar Suparno mengaku berusaha menawarkan solar dek, namun tidak banyak yang mau. Solar dex dibandrol Rp 13.700 per liter dan dijual dengan bentuk jeriken isi 10 liter, tidak boleh diecer. “Harga solar bersubsidi hanya Rp 4.500 per liter. Berarti, satu jeriken dijual Rp 137 ribu dan tiga kali lipat lebih mahal,” katanya.Suparno menambahkan, persediaan solar sudah menipis. Sejak Selasa (2/4) pukul 14.00 sebanyak 8 ribu liter solar bersubsidi telah habis. Ini membuat antrean panjang. Padahal antrean panjang jarang sekali terjadi di SPBU tersebut.(tom/hes)

 

Rental Mobil Purworejo

Kami siap jemput & antar ke tujuan Anda. Hubungi kami sekarang juga! Telp 08111800809