Gedung Kesenian Purworejo Tak Ideal?


PURWOREJO – Gedung Kesenian Sarwo Edhie Wibowo Kabupaten Purworejo yang belum lama diresmikan, ternyata tidak layak untuk pertunjukan kesenian karena berbagai kekurangan yang ditemui.

“Yang paling parah sistem akustiknya sangat jelek. Gema suaranya sangat kuat sehingga untuk pagelaran teater, musik, kethoprak, dan wayang kulit tidak memadai. Pagelaran yang digarap mati-matian dengan mengorbankan tenaga, waktu, dan biaya hancur saat dipentaskan di gedung kesenian itu,” kata Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Purworejo (DKP) Drs Dulrokhim, Senin (11/03/2013).

Di mencontohkan saat pagelaran teater dari SMA Negeri 6 dan SMP Negeri 1 Purworejo, saat pentas seni pelajar untuk mengisi acara di gedung tersebut. Dialog yang diucapkan semua pemain tidak terdengar jelas karena kalah oleh gaung yang sangat kuat. Selain itu, pertunjukan musik yang tidak bisa dinikmati.

Gedung itu, kata Dulrokhim juga banyak kelemahannya. Dari sisi panggung ukuran lebar dari belakang ke depan hanya sekitar 4,15 meter sehingga terlalu sempit bila digunakan untuk pagelaran teater, tari, dan musik. Seharusnya ukuran lebar minimal enam meter baru ideal bagi pertunjukan kesenian.

“Kanan kiri panggung harusnya ada wings (sayap) penutup untuk keluar masuk para pemain. Di atas panggung juga tidak ada rangka/palang untuk menempatkan lampu panggung,” kata Dul Rokhim. (Nar)

 

Berita lain juga ada di http://jogja.tribunnews.com

Seniman Kritisi Gedung Kesenian Purworejo

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho

PURWOREJO - Kritikan terhadap penggunaan Gedung Kesenian Purworejo terus mengalir. Sebelumnya, kritik disampaikan oleh para orangtua murid dalam gelaran gebyar budaya siswa. Kini, seniman Purworejo turut bersuara.

Mereka mengkritisi kondisi gedung dan peruntukannya yang tidak sesuai pertunjukan seni.

Rencananya, pada 30 Maret 2013, Dewan Kesenian Purworejo melalui Komite Teater akan mementaskan lakon “Ken Arok”. Namun, karena kondisi gedung yang sangat tidak layak, mereka terpaksa memindahkan lokasi pementasan.

“Dari sisi panggung, terlalu sempit untuk pagelaran teater, tari, dan musik. Harusnya, lebar minimal enam meter. Juga, di kanan dan kiri panggung harusnya sayap penutup untuk keluar masuk pemain. Di atas panggung juga tidak ada rangka untuk menempatkan lampu,” jelas Sutradara “Ken Arok,” Dulrokhim, Minggu (10/3/2013).

Ia melanjutkan, paling parah adalah sistem akustik gedung yang sangat jelek. Gema suaranya sangat kuat sehingga untuk pagelaran teater, musik, ketoprak, dan wayang kulit tidak memadai. Pagelaran yang digarap mati-matian pun bisa hancur saat dipentaskan di tempat tersebut.

Menanggapi permasalahan tersebut, Tribun Jogja pun menghubungi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo sebagai pengelola gedung. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo Purworejo, Bambang Aryawan, menyatakan, gedung tersebut belum selesai dikerjakan. Karena itu, masih cukup banyak kekurangannya.

Ia menegaskan, pembangunan gedung belum selesai. Karena itu, kondisi gedung memang masih sangat bergema. Namun, ke depannya, pihaknyamengupayakan penataan akustik yang lebih baik.

“Kami sudah minta tenaga ahli (untuk penataan akustik). Secara bertahap, kami akan melengkapi fasilitas,” jelas Bambang.

Mengenai luas panggung yang kurang representatif untuk teater, Bambang tidak bisa berkata banyak. “Kami hanya sebagai pengelola. Mengenai kondisi perencanaan, kami tidak tahu banyak. Namun, seharusnya disyukuri, karena masih banyak kabupaten lain yang belum memiliki gedung kesenian,” tutupnya.

 

Rental Mobil Purworejo

Kami siap jemput & antar ke tujuan Anda. Hubungi kami sekarang juga! Telp 08111800809