Aturan Baru: Bentor Harus Di Rubah Jadi Becak Kayuh Lagi

PURWOREJO (radarjogja.co.id) - Keberadaan becak motor (bentor) yang dinilai melanggar aturan dan membahayakan konsumen semakin diperketat. Bentor diberi tenggat waktu enam bulan. Becak  bermesin sepeda motor dan penggiling tepung itu harus kembali menjadi becak kayuh. “Penertiban bentor bukan perkara mudah. Apalagi sudah disinggung dengan masalah kemanusiaan,” kata Kasatlantas Polres Purworejo AKP Sutoyo kemarin (22/4). Sutoyo melanjutkan, sebagian pemilik atau penarik bentor merupakan tukang becak yang sudah berusia lanjut. Mereka mengakui tenaganya sudah habis dimakan usia, sehingga menambahkan mesin di becaknya untuk mengganti tenaga manusia. “Sebelumnya, ada kesepakatan tidak ada penambahan bentor. Kini, saya memberi tenggat waktu enam bulan untuk mengubah bentor menjadi becak kayuh, khususnya 30 unit bentor bermesin sepeda motor,” ungkapnya. Sutoyo menegaskan, sesulit apapun aturan harus ditegakkan. Banyak pertimbangan yang menguatkan larangan bentor beroperasi di jalanan. Salah satunya yakni faktor keamanan penumpang dan kelengkapan surat-surat sebagai moda transportasi. “Spacktak Bentor tidak memenuhi syarat. Konstruksi rem, tidak tersedianya lampu jarak jauh atau jarak dekat, serta sen itu salah satu bentuknya. Tanpa itu, kecelakaan sangat rentan untuk bentor,” tegasnya.

Keberadaan bentor sebagai moda transportasi alternatif semakin banyak bermunculan di perkotaan Purworejo dan Kutoarjo. Kini,  ada 350 unit bentor yang beroperasi. Rinciannya, 320 unit bermesin gilingan tepung, 30 sisanya bermesin sepeda motor. Untuk memastikan moda transportasi modifikasi tidak bertambah, Polres Purworejo akan menempel register pada bentor yang ada. Menurutnya, pertambahan bentor jika tidak dikendalikan akan memicu polemik dan konflik di lapangan. Selama ini, bentor ditengarai sering melanggara lalu lintas. Tidak hanya itu, keberadaan bentor, mulai dikeluhkan awak angkutan perkotaan karena diangap sering menyerobot trayek. “Secara otomatis, setelah bermesin, tidak lagi menjadi alat transportasi antargang sempit dan jarak dekat. Mereka bisa melayani trayek jarak jauh,” katanya.

Menghindari konflik di lapangan, pemilik bentor diminta menepati kesepakatan beroperasi di wilayah yang tidak ada angkutan umumnya. Akhir Maret 2013,  sempat terjadi sejumlah poin kesepakatan antara pemilik dan pengendara bentor dalam pertemuan yang diadakan di ruang Catur Prasetya Kompleks Satlantas Purworejo.”Mereka berkomitmen, dalam enam bulan semua berubah. Mereka tidak akan menambah jumlah bentor, dan diharuskan dikembalikan seperti semula,” katanya.

Jika dalam enam bulan masih adanya bentor, Polres Purworejo tidak segan menindak. Yaitu mengandangkan bentor di Satlantas dan baru boleh diambil setelah diubah menjadi becak.”Terlebih dahulu dilakukan sosialisasi dan dijawab dengan komitmen. Setelah itu, disepakati, pelanggaran akan dijawab dengan tindakan,” katanya. Ditambahkan, pembagian zona juga dilakukan. Bentor tidak boleh berpindah zona seperti dari Purworejo dan Kutoarjo. Ini akan ditindaklanjuti dengan penandantanganan kesepakatan bersama atau MoU. Parjiyem, 50, warga Sidomulyo, Purworejo mengungkapkan, selama ini ia sering naik bentor setiap ke pasar. Baginya, naik bentor lebih efektif dibanding menunggu angkutan yang harus ngetem lama.(tom/hes)

 

Rental Mobil Purworejo

Kami siap jemput & antar ke tujuan Anda. Hubungi kami sekarang juga! Telp 08111800809